
Sikka-Sebanyak 84 relawan dari tiga Dapur Gizi atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sikka mengikuti pelatihan keamanan pangan siap saji dan penjamah makanan. Kegiatan berlangsung selama dua hari di Aula Hotel Permatasari, dimulai Kamis (7/8/2025) pagi.
Pelatihan ini digelar oleh Dinas Kesehatan Sikka dan dibuka langsung oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus, yang menyebut kegiatan ini sebagai yang pertama di NTT dalam konteks penguatan keamanan pangan berbasis dapur gizi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini langkah awal penting. Kita belajar dari kasus di Kupang yang sempat heboh karena cemaran bakteri. Di Sikka, kita antisipasi sejak awal, agar program makan bergizi tidak menjadi bumerang,” ujar Herlemus.
Ia mengingatkan bahwa pengelolaan makanan tidak bisa sembarangan karena terikat pada puluhan regulasi, termasuk 12 undang-undang, 21 peraturan pemerintah, serta sejumlah peraturan dari Kemenkes, Kementan, dan Badan Gizi Nasional.

Dalam materinya, Herlemus menekankan pentingnya pemahaman soal higiene sanitasi, penggunaan bahan pangan yang aman, serta pencegahan cemaran biologi, kimia, dan fisik.
Ia juga menyampaikan rencana Dinkes untuk mengundang ketiga dapur gizi mempresentasikan SOP masing-masing agar bisa dijadikan contoh praktik baik.
Sementara itu, Koordinator SPPG Kabupaten Sikka, Egenius Djara, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan aman dan sesuai standar.
“Kita tidak ingin anak-anak kita sakit karena pangan yang tidak aman. Karena itu, penjamah makanan wajib memiliki pemahaman dan keterampilan sesuai SOP,” ujar Egenius.
Kata Egenius Djara, sebanyak 28 peserta dari masing-masing dapur yakni Dapur Gizi Nangameting, Dapur Gizi Waioti, dan Dapur Gizi Wailiti mengikuti pelatihan ini. Mereka terdiri dari relawan penjamah makanan, penanggung jawab dapur, dan ahli gizi.
Egenius berharap pelatihan ini bisa menjadi bekal teknis sekaligus moral bagi para relawan agar dapat menjalankan tugasnya secara bertanggung jawab.
“Dengan pelatihan ini, kita cegah risiko sejak awal, agar ke depan tidak terjadi kejadian luar biasa seperti keracunan. Ini untuk menjamin MBG berjalan aman dan memberi manfaat nyata bagi anak-anak di Sikka,” tandasnya.










