
Kelompok ibu-ibu dari Sanggar Dala Mawar Rani, Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka turut meramaikan Festival Jelajah Maumere yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang digelar selama empat hari terhitung sejak Rabu, 17-20 September 2025 bertempat di lapangan Kota Baru Maumere.
Sanggar Dala Mawar Rani memamerkan berbagai pangan lokal dari hasil kebunnya seperti, jagung, kacang ijo, beras merah, beras hitam, ubi kayu, ubi jalar dan sayur-sayuran. Mereka juga menjual Lekun, salah satu makanan lokal yang ada di Kabupaten Sikka serta puluhan sarung hasil tenunan mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kesempatan tersebut, mereka juga memperlihatkan bagaimana olahan berbahan dasar tepung beras hitam dan putih itu diolah menjadi Lekun.
Rosalia Dae, salah satu anggota dari sanggar tersebut menjelaskan bahwa, dalam pembuatan Lekun tidak memerlukan banyak bahan. Cukup menyiapkan beras merah, hitam, air dan parutan kelapa.
“Beras putih dan merah ditumbuk hingga halus dilarutkan dengan air, dicampur dengan kelapa parut, diaduk hingga rata dan dimasukan kedalam bambu yang sebelumnya sudah dibersihkan dan dioles dengan santan kelapa,” ujar Rosalia kepada TajukNTT, Sabtu, 20 September.
Selanjutnya, kata dia, bambu yang berisi adonan tersebut kemudian dipanggang diatas bara api sedang. Jika bambunya sudah terlihat menguning, tandanya sudah matang dan harus diangkat.
“Setelah dingin kita belah bambu secara hati-hati dan kita sudah bisa menikmati makanan tradisional tersebut.”
Rosalia berkata, Lakun biasanya digunakan dalam acara apa saja termasuk dalam urusan Leto Woter, atau dalam adat perkawinan.
“Dalam tradisi tersebut ada bagian-bagian tertentu dimana kita wajib menyediakan Lekun sesuai dengan tradisi turun temurun,” ungkap Rosalia.

Selain Lekun, Rosalia juga memperlihatkan hasil tenun ikat dengan berbagai motif menarik yang dikerjakan oleh kelompok Sanggar Dala Mawar Rani. Pewarna yang dipakai dalam membuat sarung berasal dari pewarna alami atau diambil dari tanaman yang didapatkan di hutan maupun di kebun mereka.
“Ada berbagai motif yang kami kerjakan yakni, motif Naga Lalang, Kelang Medeng, Sesa Ian Weor, Bunga Lanan, Kelan Manu dan Pedang Puhun. Semuanya dari bahan alam. Ada beberapa yang sudah laku terjual.”
Rosalia mengatakan, Sanggar Dala Mawar Rani bersyukur bisa tampil di penyelenggaran Festival Jelajah Maumere kali ini.
“Kami merasa karya-karya kami dihargai dan kami diberi ruang untuk menjual dan memamerkan hasil kerja kami. Kami berterimakasih kepada Dinas Pariwisa dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, kedepannya kegiatan seperti ini yang mungkin dikemas dalam event lain, mohon kami selalu dilibatkan.”
Festival Jelajah Maumere yang digelar kali ke-3 mengusung tema Wini Ronan(g) atau Lumbung Benih. Kegiatan ini menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan menarik seperti pentas seni mulai dari nyanyian dan tarian tradisional, permainan rakyat, pameran UMKM, lomba hias kendaraan, fashion show hingga demo memasak makanan lokal.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 80 UMKM yang berasal dari beberapa daerah di Flores dan salah satunya dari Kota Kupang.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka mengatakan, event ini digelar sebagai ajang promosi wisata yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sikka.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari pelestarian budaya tradisional yang semakin hilang karena peradaban. Ritus-ritus kebun yang mulai terabai, permainan rakyat yang semakin hilan diganti dengan teknologi yang semakin canggih,” kata Even.










