Maumere – Siapa sangka, ubi yang selama ini hanya dikenal sebagai makanan sehari-hari, bisa berubah menjadi sabun mandi bernilai jual? Ide kreatif itu datang dari tangan terampil Pasionista Fansur, pelaku UMKM asal Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.
Perempuan yang akrab disapa Osi ini memanfaatkan kekayaan alam di kampung halamannya di Pulau Palue, yang memang dikenal melimpah akan ubi, untuk menciptakan produk unik bernama “Sabun Uwi.”
“Di kampung saya makanan sehari-hari itu ubi dan kacang-kacangan. Dari situ saya berpikir, kalau ubi bisa jadi macam-macam makanan, kenapa tidak saya coba bikin sabun mandi?” ujar Osi saat ditemui di stand pamerannya pada Festival Jelajah Maumere (FJM) 17–20 September 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Produk yang ditawarkannya tak main-main. Selain donat ubi, bubur khas Palue, bolen, stik ubi, hingga mie ubi, yang paling mencuri perhatian pengunjung adalah sabun berbahan dasar ubi. Proses pembuatannya pun masih tradisional: ubi dibersihkan, dikeringkan, ditumbuk manual, lalu diolah bersama minyak kelapa murni.
“Proses buatnya sehari, tapi fermentasinya dua minggu. Sekali produksi bisa dapat 38 batang sabun, saya jual Rp35.000 per batang,” jelasnya.
Bagi Osi, Sabun Uwi bukan sekadar produk jualan, melainkan sarana edukasi. Ia ingin menunjukkan bahwa tanaman lokal punya potensi besar untuk diolah menjadi barang bernilai ekonomi.
“Produk ini sebenarnya untuk membantu masyarakat. Saya ingin orang sadar kalau bahan-bahan di sekitar kita bisa jadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya penuh semangat.
Keberanian Osi berinovasi diapresiasi pengunjung. Banyak yang terkejut sekaligus penasaran mencium aroma alami sabun hasil fermentasi ubi. “Awalnya saya kira ini makanan juga, ternyata sabun! Unik sekali, baru lihat ada yang bikin seperti ini,” ujar Maria, salah satu pengunjung yang membeli produknya.
Festival Jelajah Maumere sendiri menjadi panggung bagi 80 UMKM dari berbagai daerah di Flores hingga Kupang. Dengan tema “Wini Ronan(g) – Lumbung Benih”, kegiatan ini tak hanya menghadirkan pameran produk lokal, tapi juga pentas seni, permainan rakyat, fashion show, hingga demo masak makanan tradisional.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Even Edomeko, mengatakan bahwa festival ini digelar untuk memicu pertumbuhan ekonomi sekaligus promosi wisata Sikka. “Ajang ini adalah ruang bagi UMKM kita untuk berkreasi dan memperkenalkan produk lokal ke masyarakat luas,” tegasnya.
Osi berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan semakin banyak UMKM lokal yang berani berinovasi. “Bagi saya, ini keuntungan besar karena bisa promosi ke siapa saja. Semoga festival ini sering digelar supaya masyarakat lebih percaya diri menunjukkan karya mereka,” tuturnya.
Penulis : Mia Margaretha
Editor : Mia Margaretha
Sumber Berita : Liputan










