TAJUKNTT-SIKKA-Di tengah masyarakat, stigma bahwa Orang dengan HIV-AIDS atau ODHA tidak boleh didekati karena akan menularkan penyakit HIV-AIDS. Hal itu membuat mereka kerap dijauhi bahkan dianggap sebagai aib bagi keluarga. Diskriminasi tersebut menjadikan mereka kesulitan dalam mengakses pekerjaan, layanan kesehatan bahkan pendidikan. Padahal sebenarnya mereka juga berhak atas kehidupan yang layak tanpa di diskriminasi oleh pihak manapun.
Di Kabupaten Sikka, langkah tersebut tengah diupayakan pemerintah. Komisi Penanggulangan HIV-AIDS melakukan sosialisasi berkala mengenai penularan HIV AIDS dan mendorong masyarakat agar tidak melakukan diskriminasi terhadap ODHA baik di lingkungannya maupun dalam mengakses pekerjaan, kesehatan maupun pendidikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Simon Subandi, Wakil Bupati Sikka sekaligus ketua KPA Kabupaten Sikka mengatakan, pihaknya berperan dalam sosialisasi dan pemberdayaan seperti pelatihan membuat tempe dan kreativitas lainnya.
“Tujuan kami melakukan sosialisasi kepada masyarakat adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang apa itu HIV dan AIDS, bagaimana cara penularannya, serta cara mencegahnya. Hal ini juga dilakukan untuk mengurangi stigma dan diskriminasi, sehingga ODHA dapat diterima dan mendapatkan dukungan,” kata Subandi dalam keterangan persnya, Kamis (27/11/2025) bertempat di ruang kerja Wakil Bupati.
Sesuai dengan visi-misi di masa pemerintahannya bersama Bupati Juventus Yoris Kago, bahwa dengan melibatkan semua elemen masyarakat dapat mewujudkan masyarakat Sikka yang produktif, kreatif, unggul dan mandiri menuju Maumere Baru, ia meminta masyarakat tidak menjauhi atau menganggap ODHA adalah aib. Sebaliknya, ODHA adalah mereka yang perlu didukung, di motivasi dan dirangkul.
“ODHA merupakan bagian dari kita yang mesti di rangkul, dihargai dan diberdayakan sama halnya dengan yang lain. Beberapa waktu lalu, mereka mengikuti pelatihan dengan membuat temped an beberapa kreativitas lainnya. Saya berharap mereka pun dapat mengakses semua layanan dan bisa memberi kontribusi untuk kemajuan daerah kita.”
Oleh karena itu, kata dia, mestinya upaya penanganan harus dimulai dari desa. ODHA harus diberi ruang untuk berkreativitas bukan untuk di diskriminasi. Ia pun turut menyampaikan kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) agar mengalokasikan anggaran untuk penanganan ODHA di desa. Hal tersebut merujuk pada Instruksi Bupati Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA) kepada Kepala Dinas PMD, Camat, Kepala Desa/Lurah.
Jalan Terjal Menuju Three Zeroes
Kabupaten Sikka memiliki target besar lima tahun kedepan dalam penanggulangan HIV-AIDS yakni menuju Sikka Bebas AIDS 2030. Pemerintah berharap pada tahun tersebut tidak ditemukan lagi kasus HIV baik pada bayi yang baru lahir di Sikka, maupun masyarakat pada umumnya.
Kendati demikian, langkah tersebut tidaklah mudah mengingat kasus HIV-AIDS terus meningkat di Sikka. Dalam tiga bulan terakhir, sekitar 20 pekerja seks komersial (PSK) terjaring razia petugas keamanan. Baru-baru ini, pada 18 November, Satpol PP bersama TNI AL, TNI AD, Polres Sikka, dan Brimob Kewapante, 10 PSK berhasil terjaring razia. 7 PSK positif sifilis dan HIV. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah.
Menurut catatan KPAD Sikka, secara kumulatif dari tahun 2003 hingga Juli 2025 terdapat 1.225 kasus yang terdiri dari HIV berjumlah 368 kasus dan AIDS berjumlah 857. Sebanyak 260 meninggal dunia akibat penyakit ini.
“Kasus HIV dan AIDS ditemukan di semua wilayah kecamatan dan menyerang semua kelompok umur serta hampir semua profesi dalam masyarakat sudah terpapar,” ungkap Subandi.
Dalam rinciannya, resiko terinfeksi heteroseks menempati urutan teratas dengan angka 1.012 kasus, disusul homoseks sebanyak 135 kasus, perinatal 51 kasus, tidak diketahui 23 kasus dan penasun 4 kasus.
“Temuan kasus baru selama bulan Januari hingga Juli 2025 sebanyak 35 kasus. Dari 1.225 kasus HIV, terdapat 652 orang aktif ARV dan yang melakukan test Viral Load sebanyak 304 orang dan 96 orang lainnya mangkir dari pemeriksaan.”
Subandi mengatakan, meski jumlahnya meningkat, langkah pencegahan terus dilakukan pemerintah. Selain sosialisasi akan bahaya penyebaran HIV AIDS, KPA secara rutin mendistribusi kondom ke beberapa lokasi seperti salon maupun tempat hiburan.
“Kami menyalurkan ke 30 lokasi di Maumere termasuk di tempat hiburan dan salon. Kita selalu tekankan, jika ingin sehat dan keluarga pun ikut sehat maka gunakan pengaman.”
Kata dia, masyarakat juga perlu melakukan tes HIV secara dini serta memanfaatkan pengobatan yang tersedia. Upaya tersebut bertujuan mendorong agar mereka lebih peduli dan berpartisipasi dalam pencegahan serta penanganan HIV-AIDS.
“Dengan melihat jumlah tersebut, ada upaya serius yang kita lakukan untuk penanggulangan AIDS di Kabupaten Sikka. Kami memiliki empat program yang kami sebut dengan STOP.”
Subandi menjelaskan, program pertama disebut dengan Suluh atau bagaimana cara merubah pandangan masyarakat bahwa HIV adalah penyakit kronis yang dapat dikelola seperti bagaimana penularannya, bagaimana pencegahan, bagaimana pengobatannya. Hal ini dilakukan secara terus-menerus hingga warga memahaminya secara utuh.
Selanjutnya, masyarakat dilatih bagaimana cara agar bisa menemukan atau mengenal seseorang yang sedang terinfeksi dari tanda dan gejala yang dialami sehingga ada upaya dilakukan pemeriksaan sesuai dengan prosedur medis.
Penulis: Mia Margaretha Holo
Editor: Redaksi.










