MAUMERE-TAJUKNTT-Kesehatan mental remaja menjadi perhatian serius di Kabupaten Sikka. Hal ini mengemuka dalam kegiatan edukasi kesehatan mental yang digelar di SMP Negeri Kewapante, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 29–30 April 2026 ini merupakan kolaborasi antara SMP Negeri Kewapante dan Yayasan Payung Perjuangan (PAPHA) Indonesia. Acara dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko.
Dalam sambutannya, Kadis PKO Sikka mengingatkan bahwa tekanan digital saat ini menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi mental remaja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, perkembangan teknologi yang pesat membawa tantangan baru yang tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga menyentuh sisi sosial dan psikologis peserta didik.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan pendidikan akhir-akhir ini. Banyak di antaranya berakar dari kondisi mental dan emosional yang tidak sehat. Tekanan digital turut memperbesar beban yang dihadapi remaja,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa sekolah harus mampu menghadirkan lingkungan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi siswa. Lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan, perundungan, dan tekanan dinilai menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter serta kesehatan mental peserta didik.
“Kesehatan jiwa harus menjadi perhatian serius dan tanggung jawab bersama, baik oleh sekolah, orang tua, maupun masyarakat,” tambahnya.
Kepala SMP Negeri Kewapante, Alexius Dewa, menyampaikan bahwa isu kesehatan mental memiliki keterkaitan erat dengan rapor pendidikan, khususnya pada indikator iklim keamanan lingkungan sekolah.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil Asesmen Nasional Berbasis Kompetensi (ANBK), rapor pendidikan sekolahnya mengalami penurunan, baik pada aspek literasi maupun iklim keamanan lingkungan, dari kategori hijau menjadi kuning.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi kami. Karena itu, melalui kegiatan ini kami sangat berterima kasih kepada Yayasan PAPHA Indonesia yang telah membantu meningkatkan kesadaran warga sekolah akan pentingnya kesehatan mental,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Direktur Yayasan PAPHA Indonesia, Emilianus Soge, menegaskan bahwa masa remaja merupakan fase yang rentan terhadap berbagai tekanan, baik dari lingkungan sosial maupun perkembangan digital.
Ia menyebut edukasi kesehatan mental penting untuk membantu siswa mengenali diri, berani mengungkapkan perasaan, serta membangun relasi yang sehat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan saling mendukung,” ungkapnya.
Kegiatan hari pertama ditutup dengan deklarasi komitmen bersama untuk menjaga kesehatan jiwa seluruh warga sekolah yang dibacakan oleh pengurus OSIS dan diikuti seluruh peserta.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pengawas Pembina Valentina Orcelina Da Toa, dosen psikologi dari Universitas Nusa Nipa Maumere Maria Megaloma Harten Gaharpung, tenaga kesehatan dari Puskesmas Kewapante dan Waipare, serta para narasumber lainnya.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada hari kedua dengan lomba pidato, lomba konten edukasi, dan lomba cerdas cermat bertema kesehatan mental remaja, sebagai upaya memperkuat pemahaman sekaligus partisipasi siswa dalam membangun budaya sekolah yang sehat jiwa dan bebas dari kekerasan.
Liputan Jurnalis Warga oleh: Marselinus Atapuken-Guru SMPN Kewapante










