Maumere, 18 September 2025 –Sejumlah kontraktor di Kabupaten Sikka mengaku menghadapi berbagai kendala dalam melaksanakan proyek fisik tahun anggaran 2025. Salah seorang kontraktor yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, keterlambatan proses lelang maupun penunjukan langsung membuat mereka bekerja dalam tekanan waktu yang semakin sempit.
“Baru kali ini sangat terlambat dilepas. Bahkan baru dilepas tanggal 28 Agustus 2025. Bagaimana kami bisa kerja optimal kalau waktunya sudah mepet, apalagi sekarang sudah masuk musim hujan,” ungkapnya dengan nada kecewa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut kontraktor tersebut, ada sejumlah faktor yang membuat pekerjaan di lapangan tidak berjalan mulus:
1. Waktu Kerja Pendek
Karena paket baru dilepas pada akhir Agustus, para kontraktor hanya memiliki sisa waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan pekerjaan. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap kualitas maupun ketepatan waktu penyelesaian proyek.
2. Munculnya Kontraktor Dadakan
Ia juga menyinggung fenomena kontraktor baru yang tiba-tiba bermunculan saat paket pekerjaan dilepas. Hal ini, menurutnya, kerap menimbulkan persaingan tidak sehat sekaligus merugikan pihak yang benar-benar berpengalaman di bidang konstruksi.
3. Kendala Tenaga Kerja
“Finansial kami siap, tapi tenaga kerja sulit. Bagaimana coba? Sementara kemampuan kerja di lapangan harus tetap maksimal,” keluhnya.
4. Faktor Non-Teknis
Medan pekerjaan yang berat, keterbatasan lahan untuk drop-in material, hingga akses jalan masuk ke lokasi proyek menjadi penghambat tambahan. Ditambah lagi, musim hujan mulai datang sehingga mobilisasi material semakin sulit.
“Kami Harus Kerja Sambil Berlari”
Dengan nada lirih, kontraktor itu menggambarkan situasi nyata di lapangan.
“Bayangkan saja, kami harus kerja sambil berlari. Pagi-pagi buta material diangkut ke lokasi, tapi jalan masuk becek karena hujan semalam. Anak-anak muda yang jadi tukang angkut terpaksa dorong gerobak lumpur sampai selutut. Ada yang sampai jatuh, tapi tetap bangkit lagi. Itu kenyataannya,” tuturnya.
Ia mengaku, meskipun pekerja di lapangan terus berusaha, keterbatasan waktu membuat mereka kerap bekerja hingga larut malam. “Kadang jam sembilan malam lampu sorot masih menyala. Orang kampung lewat suka heran lihat kami kerja malam-malam. Tapi mau bagaimana lagi, kami kejar waktu. Kalau terlambat, yang kena nama baik kami juga.”
PPK PKO Tetap Optimistis
Meski berbagai keluhan disuarakan kontraktor, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Ahmad Karno, menegaskan tetap optimistis seluruh paket pekerjaan bisa selesai tepat waktu.
“Saya sebagai PPK menangani 47 paket dengan mekanisme penunjukan langsung. Nilai pekerjaan konstruksi terbesar adalah pembangunan enam ruang kelas SD Hikong senilai Rp377.977.000. Kami optimistis semua pekerjaan bisa selesai sesuai target,” tegas Ahmad Karno (4/9).
Ia menjelaskan, tahun ini Dinas PKO Sikka mengelola total 66 paket pekerjaan, terdiri dari 56 paket non-tender dan 5 paket tender fisik yang bersumber dari Dana Alokasi Umum Specific Grant (DAU SG) tahun anggaran 2025. Dari jumlah tersebut, sebagian besar sudah mulai berjalan.
Antara Tekanan Waktu dan Target Pemerintah
Situasi ini memperlihatkan dua sisi berbeda: di satu sisi, kontraktor di lapangan menghadapi tekanan waktu, medan, dan keterbatasan tenaga kerja. Namun di sisi lain, pemerintah melalui PPK tetap menegaskan optimisme bahwa target pembangunan pendidikan di Sikka akan tercapai.
Kini, masyarakat menunggu apakah berbagai kendala teknis dan non-teknis yang disuarakan kontraktor benar-benar dapat diatasi, sehingga mutu pekerjaan tetap terjaga dan pembangunan infrastruktur pendidikan tidak lagi terbentur masalah klasik: terlambat mulai, terburu-buru menyelesaikan.
Penulis : Wiliam
Editor : Wiliam
Sumber Berita : wawancara










