Oleh: Yeriko Fernando
LEMBANG-Langit Lembang mungkin telah lama menjadi saksi bisu bagi ribuan orang yang datang untuk berguru. Namun, sepekan kemarin—sejak Senin, 13 April hingga Sabtu, 18 April 2026—langit yang sama menyaksikan sebuah ikhtiar yang luar biasa. Di antara uap napas sapi dan dinginnya udara pegunungan, putra-putra terbaik Flores sedang menjemput harapan bagi masa depan kedaulatan pangan di tanah kelahiran mereka.
Emil, pemuda asal Nangaba, Ende, yang merupakan lulusan D3 Peternakan, baru saja menuntaskan hari-hari paling berharga dalam perjalanan kariernya. Pemuda yang akrab disapa Jebol ini tidak berjuang sendiri. Tepat di sampingnya, mengenakan wearpack yang identik, berdiri Senator Angelius Wake Kako (AWK). Hadir pula dalam barisan tersebut Diman dan Epin, dua peserta asal Borong, Manggarai Timur. Selama satu minggu penuh, mereka melebur sebagai peserta aktif, bahu-membahu dalam pelatihan Inseminasi Buatan (IB) di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Kementerian Pertanian, Lembang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proses Pelatihan Di Lembang dan Subang
Rutinitas mereka tidak ringan. Setiap pagi, tepat pukul 08.00 WIB, mereka bersama peserta lain telah bersiap menempuh perjalanan dari Balai Lembang menuju pusat pelatihan di Subang. Di kandang-kandang praktik itulah, hingga pukul 16.00 sore, mereka berjibaku langsung dengan ternak. Mereka masuk ke kandang, mempelajari anatomi reproduksi, dan melatih ketelitian tangan untuk menyuntikkan “benih” perubahan ke rahim sapi di bawah bimbingan fasilitator.
Di sela aroma jerami dan deru napas ternak di lokasi praktik Subang, Senator AWK menyampaikan pemikiran mendalamnya mengenai keterlibatan langsungnya di lapangan. Ia menegaskan bahwa masyarakat Flores tidak boleh lagi hanya menjadi penonton atau konsumen di tanah sendiri. Baginya, teknologi Inseminasi Buatan adalah kunci krusial untuk memutus rantai ketergantungan pangan terhadap daerah lain. AWK menjabarkan bahwa selama masyarakat belum menguasai teknologi peternakan modern, Flores akan selalu bergantung pada pasokan daging dan susu dari luar pulau.
Urgensi Inseminator Bagi Peternakan Flores
Mengapa kehadiran inseminator menjadi begitu vital bagi Flores? Selama ini, peternakan sapi di Flores masih menghadapi kendala klasik: pola pemeliharaan tradisional, terbatasnya pejantan unggul di tingkat peternak, hingga risiko penurunan mutu genetik akibat perkawinan sedarah (inbreeding). Tanpa tenaga inseminator yang ahli, upaya perbaikan keturunan ternak akan berjalan lambat. Keahlian ini memungkinkan percepatan perbaikan kualitas genetik secara masif di tingkat rakyat.
Kita dapat berkaca pada kesuksesan Bangladesh. Negara tersebut berhasil melakukan revolusi peternakan dengan menggerakkan ribuan inseminator lokal hingga ke desa-desa. Hasilnya, sapi-sapi lokal mereka bertransformasi menjadi sapi persilangan yang jauh lebih produktif. Bangladesh membuktikan bahwa penguasaan teknologi reproduksi di tangan anak muda desa adalah kunci kemandirian protein nasional.
Hilirisasi dan Kemandirian Ekonomi

Misi yang dibawa pulang ke Flores bukan hanya tentang melahirkan sapi-sapi yang lebih besar melalui perbaikan genetik. Ada peta jalan yang lebih luas untuk kemandirian ekonomi warga. Dengan penguasaan teknologi IB, populasi sapi perah dan potong yang berkualitas akan menjadi fondasi industri baru di desa-desa.
Masa depan yang dibayangkan adalah Flores yang tidak lagi hanya bicara soal daging, tetapi juga menghasilkan susu segar yang melimpah. Hilirisasi produk seperti susu olahan, yogurt, hingga keju akan menjadi bagian dari denyut nadi ekonomi masyarakat sekaligus benteng pertahanan bagi gizi anak-anak Flores guna memutus rantai stunting.
Kunjungan Kerja Komite II DPD RI
Kegiatan pelatihan ini ditutup secara resmi dengan Kunjungan Kerja (Kunker) Komite II DPD RI ke Balai Inseminasi Buatan Lembang pada Sabtu, 18 April 2026. Kunjungan ini merupakan bentuk advokasi nyata terhadap permasalahan inseminasi buatan guna mendukung peningkatan populasi dan kualitas ternak nasional.
Dipimpin oleh Pimpinan Komite II DPD RI, Angelius Wake Kako, rombongan delegasi turut menghadirkan Anggota DPD RI lainnya, yakni Alfiansyah Komeng (Dapil Jawa Barat), Lis Tabuni (Dapil Papua Tengah), dan Azhari Cage (Dapil Aceh). Rombongan diterima langsung oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. drh. Agung Suganda, serta Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi melakukan peninjauan langsung terhadap fasilitas produksi semen beku dan laboratorium. Dialog intensif dilakukan guna menggali berbagai persoalan, mulai dari sisi teknis, pengembangan SDM, hingga distribusi pelayanan inseminasi buatan ke daerah-daerah.
Kini, Emil, Diman, dan Epin kembali ke daerahnya membawa keahlian nyata. Bersama Senator AWK yang telah merasakan langsung pengalaman di lapangan, mereka siap membawa pulang pengetahuan ini untuk membangun sektor peternakan Flores yang lebih modern, mandiri, dan berdaulat.









