Maria Saidah, Pedagang Ikan di Sikka yang Naik Kelas Berkat KUR BRI

- Reporter

Jumat, 24 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maria Nona Saidah, warga Waidoko, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka sedang menjual ikan di tempat penjualan ikan (TPI). Foto: Mia Margareta Holo

Maria Nona Saidah, warga Waidoko, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka sedang menjual ikan di tempat penjualan ikan (TPI). Foto: Mia Margareta Holo

Sikka-Terik matahari di Jumat, 24 Oktober 2025 cukup menyengat kulit meski waktu baru menunjukkan pukul 08.00 Wita. Hiruk pikuk nelayan, pedagang ikan maupun masyarakat ramai saling menawar di tempat penjualan ikan (TPI) Maumere. Di pantai, puluhan kapal nelayan menepi membawa berbagai jenis ikan hasil tangkapan semalam, namun ada juga yang sudah melepas jangkar meninggalkan pelabuhan kecil itu, tanda ikan-ikan yang ditangkapnya sudah habis terjual.

“Ibu, mau beli ikan? Satu cool box dengan harga 750 ribu rupiah,” tawar seorang nelayan dari atas kapal kepada seorang ibu yang mengenakan topi berwarna silver. Perempuan itu berdiri tepat di bibir tanggul di pinggir pantai itu. Ia menolak tawaran nelayan itu lantaran terlalu mahal, katanya.

Padahal menurut sebagian nelayan, kisaran harga per cool box ikan Layang biasanya di jual dengan harga tersebut. Dengan rayu dan tawar menawar cukup alot, perempuan bernama Maria Nona Saidah berhasil memenangkan hati nelayan tersebut. Satu cool box ikan terjual dengan harga Rp700.000, berkurang Rp50.000 dari harga awal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Maria Nona Saidah, begitu namanya, menjunjung cool box sembari tersenyum. Masih di dalam lingkungan TPI, Saidah menyiapkan lapaknya dan menjual kembali ikan tersebut tujuh ekor dengan harga Rp20.000.

Saidah merupakan warga Waidoko, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka. Sehari-hari ia bekerja sebagai pedagang ikan, tidak hanya di TPI tetapi juga di Waidoko. Pagi sekali, Saidah sudah berangkat dari rumahnya menuju ke TPI untuk membeli ikan langsung dari nelayan dan menjualnya lagi di tempat itu.

“Pagi hari, saya beli ikan di sini (TPI) dan langsung menjuanya. Setelah matahari mulai tinggi sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi, saya kembali ke Waidoko dan berjualan lagi di sana,” kata Saidah.

Di mata sahabat-sahabatnya, Saidah merupakan sosok perempuan pekerja keras yang sukses sebagai pedagang ikan. Berawal dari kesulitan uang sekolah semasa ia masih menjadi pelajar di salah satu Sekolah Menengah Atas di kota Maumere, Saidah mulai menjual ikan setelah pulang sekolah. Ia juga mengisi waktu liburan dengan menjual ikan keliling kampung.

“Waktu itu orang tua juga tidak mampu, jadi pulang sekolah saya jual ikan. Uang tersebut saya tabung untuk biaya sekolah dan jajan saya,” terang Saidah.

Setelah menamatkan sekolahnya, Saidah enggan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan alasan ekonomi. Ia tetap memilih menjadi pedagangl ikan.
“Di tahun 2006, saya berpikir serius tentang nasib saya dan tidak mau menjadi pedagang ikan yang biasa-biasa saja dengan hasil tidak menentu. Dengan modal di tangan yakni seratus ribu rupiah, saya mulai beli ikan dan menjualnya kembali setiap pagi.

Kendati demikian, kata dia, hasil dari jualan tersebut tidak banyak. Satu tahun berjalan, ia merasa jualannya jatuh bangun dan tidak berkembang secara baik. Sempat merasa frustasi dan ingin merantau keluar Maumere, seorang temannya datang kepadanya suatu hari.

“Dia ajak saya dan bilang, di BRI ada tawaran pinjaman dana KUR, kalau mau kita pinjam untuk modal,” kata Saidah menirukan ucapan temannya.
“Saya sempat ragu karena penghasilan saya tidak menentu, tetapi setelah saya pikir-pikir, daripada merantau, saya jualan ikan saja. Toh sudah banyak langganan saya di Waidoko.”

Pada 2007, Saidah pun akhirnya mengakses dana KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar Rp3000.000 sebagai pinjaman awal di kantor BRI unit Wuring dengan jangka waktu satu tahun. Ia menyerahkan persyaratan seperti kartu keluarga, KTP dan surat kelakuan baik.

Petugas BRI kemudian melakukan survei dan usahanya dianggap layak untuk mendapatkan modal KUR. Proses pencairan hanya berlangsung dua hari dan uang tersebut langsung ia pakai untuk modal usaha menjual ikan.

“Saya mulai bekerja keras dengan penuh semangat dari subuh hingga sore hari untuk menjual ikan. Kadang harus keliling kampung. Bersyukur sekali ikan-ikan itu habis terjual.”

Merasa berhasil mengelolah uang Rp3000.000 selama setahun, Saidah pun menaikan pinjaman dana KUR untuk kali kedua sebesar Rp15.000.000. Sebagian ia gunakan untuk penambahan modal usaha, sebagiannya lagi ia gunakan untuk membeli bidang tanah.
“Waktu itu saya masih tinggal dengan orang tua sehingga saya memutuskan untuk membeli tanah pada tahun 2008 dengan ukuran 15×20 meter persegi dengan harga Rp.25 juta.”

Tak hanya sampai disitu, melihat perkembangan usahanya semakin bagus dan matang, pada tahun berikutnya, Saidah meminjam lagi dana KUR sebesar Rp.25.000.000, Rp50.000.000, Rp.200.000.000 hingga yang terakhir Rp.400.000.000.

“Kalau Rp400 juta itu sudah dua kali akses dari dua tahun lalu. Yang pertama saya lunaskan dalam jangka waktu dua tahun saja, setelah itu saya ambil lagi. Dana pinjaman itu saya pakai untuk renovasi rumah, beli perahu untuk suami pergi melaut dan mobil pikap untuk suami jual ikan ke luar Maumere.,” ujar Saidah.

Saidah menerangkan, selama ia menggunakan dana KUR sebagai bantuan usahanya, hampir tidak ada kendala yang dirasakannya meskipun angkanya tidak sedikit.

“Saya dan suami bekerja serius dan angsur tepat waktu. Kami mengatur keuangan dengan sangat baik sehingga paling kalau terlambat hanya satu atau dua hari saja. Itupun biasanya terjadi pada bulan Februari saat cuaca tidak mendukung dan hasil tangkapan nelayan berkurang. Di musim hujan biasanya pasokan ikan tidak banyak sehingga cukup berpengaruh.”

Pimpinan Kantor Cabang BRI Maumere, Kabupaten Sikka, Nyoman Slamet Destrawan saat memberikan keterangan pers, Jumat, 24 Oktober 2025

.
“Jadi saya mengucapkan terima kasih banyak kepada BRI, selain ramah, mereka juga sangat mengerti dan mau mendengar jika kita mengeluh tentang kendala-kendala yang kita hadapi. Hampir 18 tahun mereka sangat membantu usaha saya dari yang kecil hingga sampai saat ini.”

Dari Edukasi hingga Pembinaan, KUR Bantu Usaha Kecil jadi Besar

Pada tahun 2025, penyaluran dana KUR sebesar Rp250 Miliar diperuntukan bagi masyarakat “bukan untuk mendirikan usaha tetapi diberikan kepada masyarakat yang usahanya sedang dijalankan,” kata Pemimpin Kantor Cabang BRI Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, I Nyoman Slamet Destrawan kepada Tajukntt, Jumat, 24 Oktober.

Ia mengungkapkan, jika dana KUR di kelolah dengan baik oleh nasabah, maka hasil usahanya juga akan berkembang dengan baik.

“Kita tidak hanya membantu uang saja tetapi juga melakukan edukasi dan pembinaan kepada mereka tentang bagaimana mengelolah uang dengan baik sehingga usahanya dapat berkembang dan sukses. Hal itu tentu menjadi kepercayaan bagi kami untuk kembali memberikan akses jika pelaku usaha ingin meminjam lagi,” kata I Nyoman Destrawan.

“Nasabah dari usahanya yang kecil terus kita bina, kalau angsurannya bagus maka kita memotivasi mereka untuk akses ke angka yang lebih tinggi lagi.” tambahnya.

Slamet berkata, setiap permohonan kredit mesti melewati Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kami selalu mengecek informasi SLIK debitur saat proses pengajuan kredit. Kalau ada pinjaman atau tunggakan di koperasi, pinjaman online akan kelihatan di sana. Jadi kita sangat selektif memilih sesuai kelayakan menurut data SLIK dan kondisi usahanya.” ungkapnya.
Penulis:Mia Margaretha Holo

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

NTT Mart Hadir di Ende–Maumere, Panggung Baru UMKM Flores
BRI Cabang Maumere Salurkan Bansos PKH Bagi 153 Penerima Manfaat di Kecamatan Nita
Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran, Pupuk Indonesia Catat Lompatan Besar Dukung Swasembada Pangan
Sikka Punya Hasil, Surabaya Punya Nama”, Bupati Juventus Ingin Ubah Kenyataan Ini, Usulkan Pelabuhan Lorens Say Jadi Pelabuhan Ekspor
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 14 Desember 2025 - 01:51 WITA

NTT Mart Hadir di Ende–Maumere, Panggung Baru UMKM Flores

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 01:53 WITA

BRI Cabang Maumere Salurkan Bansos PKH Bagi 153 Penerima Manfaat di Kecamatan Nita

Jumat, 24 Oktober 2025 - 11:03 WITA

Maria Saidah, Pedagang Ikan di Sikka yang Naik Kelas Berkat KUR BRI

Selasa, 21 Oktober 2025 - 08:19 WITA

Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran, Pupuk Indonesia Catat Lompatan Besar Dukung Swasembada Pangan

Kamis, 12 Juni 2025 - 09:38 WITA

Sikka Punya Hasil, Surabaya Punya Nama”, Bupati Juventus Ingin Ubah Kenyataan Ini, Usulkan Pelabuhan Lorens Say Jadi Pelabuhan Ekspor

Berita Terbaru