SIKKA TAJUKNTT.ID – Di sebuah ruang operasi sederhana di Rumah Sakit Santa Elisabeth Lela, seorang dokter berbaju hijau berdiri tegak di bawah sorot cahaya lampu operasi. Tangannya cekatan, gerakannya presisi, wajahnya tersembunyi di balik masker dan sorban operasi yang bertuliskan kata-kata medis. Dari balik kaca pelindungnya, pandangan tajam itu terfokus pada satu tujuan: memperbaiki senyum seorang anak.
Dialah dr. Wiliams Imanuel Mesang, Sp.B.P.R.E., M.Ked.Klin, satu-satunya dokter spesialis bedah plastik asal Nusa Tenggara Timur yang menjadi bagian penting dalam misi kemanusiaan operasi sumbing bibir dan langit-langit di Kabupaten Sikka.
Pada Jumat, 5 Desember 2025, dr. Wiliams bergabung dalam kegiatan bakti sosial yang digelar Yayasan Permata Sari, bekerja sama dengan RS Santa Elisabeth Lela. Meski jadwal di tempatnya bertugas—Rumah Sakit Ben Boi Kupang—tak pernah benar-benar longgar, ia datang dengan semangat yang sama seperti misi sosial lainnya yang telah ia jalani di Ende, Kupang, dan Atambua.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak dari Jakarta, Surabaya, hingga Timur Indonesia
Dr. Wiliams bukan nama asing di dunia bedah plastik rekonstruksi di NTT. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, ia kemudian menempuh pendidikan spesialis bedah plastik di Universitas Airlangga Surabaya. Setelah menyelesaikan pendidikan panjang itu, ia memilih pulang ke Timur—ke rumah—untuk memberikan layanan kesehatan yang jarang tersedia di wilayah ini.
Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi. Di banyak daerah, akses terhadap dokter bedah plastik masih amat terbatas. Banyak pasien bibir sumbing dan kelainan langit-langit harus menunggu lama, atau bahkan tidak tertangani sama sekali. Karena itulah baginya, kegiatan seperti di Sikka ini adalah panggilan hati.
“Ini operasi pertama kami di Kabupaten Sikka”
Saat ditemui di sela-sela proses operasi, dr. Wiliams menjelaskan bahwa kegiatan kali ini adalah hasil kolaborasi berbagai pihak.
“Operasi sumbing bibir dan langit langit ini adalah kolaborasi antara semua pihak, mulai dari pencarian pasien, kesediaan rumah sakit, serta fasilitas penunjang lainnya yang ikut berperan,” ujarnya.
Tim yang ia bawa bukan tim kecil.
Satu dokter anestesi, tiga dokter spesialis bedah plastik, satu perawat anestesi, dan dua perawat umum turut menyukseskan kegiatan tersebut.
Dari 26 pasien yang direncanakan, tiga tidak lolos screening karena masalah kesehatan seperti batuk pilek atau tidak sesuai kategori kelainan yang ditangani. Sisanya menjalani operasi secara bertahap melalui tiga meja operasi yang dibuka sekaligus, dengan rata-rata durasi tindakan satu jam per pasien.
“Dari tingkat kesulitannya tentu saja langit-langit, karena berada di dalam mulut. Sedangkan bibir sumbing berada di luar mulut,” jelasnya ketika membandingkan tantangan masing-masing prosedur.
Meski bukan yang pertama bagi timnya, operasi kali ini punya arti tersendiri: ini adalah operasi pertama mereka di Kabupaten Sikka, setelah sebelumnya melayani di beberapa daerah lain di NTT.
Mengembalikan Senyum, Mengubah Masa Depan
Bagi dr. Wiliams, setiap operasi bukan sekadar tindakan medis. Di balik sayatan kecil dan jahitan halus itu, ia percaya ada masa depan yang diperbaiki—rasa percaya diri yang tumbuh kembali, senyum yang akan berubah menjadi pintu bagi kesempatan hidup yang lebih baik.
Di tengah deru mesin operasi dan bisikan koordinasi antarperawat, seorang anak akan pulang dengan senyum baru. Dan di balik senyum baru itu, ada tangan seorang anak daerah yang kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi.
Itulah jejak langkah dr. Wiliams Imanuel Mesang—dokter bedah plastik dari Nusa Tenggara Timur yang memilih menjahit harapan, satu pasien pada satu waktu.
Penulis : Wiliam
Editor : Wiliam
Sumber Berita : Liputan










