JAKARTA-TAJUKNTT-Gelombang tuntutan keadilan atas kematian tragis Noni, siswi SMP berusia 14 tahun asal Desa Rubit, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini mencapai jantung ibu kota. Sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Maumere Jakarta (PMMJ) menggelar aksi demonstrasi besar di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2026).
Massa aksi mendesak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk segera mengambil alih penanganan kasus tersebut dari tangan Polda NTT dan Polres Sikka. Mereka menilai proses hukum yang berjalan saat ini lamban, tidak transparan, dan menyisakan banyak tanda tanya besar di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Soroti Kejanggalan dan Hilangnya Barang Bukti
Ketua PMMJ, Andri Tani, dalam orasinya menegaskan bahwa terdapat indikasi kuat adanya upaya penghilangan jejak dalam kasus kematian Noni. Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kondisi jasad korban saat ditemukan.
“Korban ditemukan dengan kondisi rambut dicukur atau kepala botak. Ini menimbulkan dugaan kuat bahwa ada upaya sistematis untuk menghilangkan jejak atau fakta penting. Selain itu, hingga hari ini handphone dan pakaian korban belum ditemukan. Mengapa barang-barang sepenting itu bisa hilang dari pantauan penyidik?” ujar Andri di hadapan massa aksi.
PMMJ menilai kinerja kepolisian di daerah tidak maksimal sejak awal korban dilaporkan hilang hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Hal ini, menurut mereka, telah menggerus kepercayaan publik terhadap institusi Polri di wilayah NTT.
Tuntutan Pencopotan Kapolda hingga Kapolres
Ketidakpuasan terhadap penanganan kasus ini berujung pada tuntutan pencopotan sejumlah pejabat tinggi kepolisian di Nusa Tenggara Timur. PMMJ secara tegas meminta Kapolri untuk mengevaluasi dan mencopot Kapolda NTT, Kapolres Sikka, serta Kasat Reskrim Polres Sikka.
“Kami mendesak Kapolri untuk mencopot Kapolda NTT karena dinilai gagal memberikan instruksi tegas kepada bawahannya di Sikka. Kami butuh pemimpin yang mampu menjamin keadilan bagi rakyat kecil, bukan yang membiarkan kasus menggantung tanpa kejelasan,” tegas Andri.
Aksi ini tidak hanya digerakkan oleh PMMJ. Berbagai organisasi mahasiswa asal Flores dan NTT lainnya turut bergabung dalam barisan solidaritas, di antaranya:Angkatan Muda Adonara Jakarta (AMA Jakarta), Barisan Anak Timur Universitas Bung Karno (BATU), Himpunan Mahasiswa Pemuda Nagekeo Jabodetabek (HIMAPEN), Gerakan Pemuda Mahasiswa Ende Jakarta (GPMEJ).
Mereka meyakini bahwa kasus ini tidak hanya melibatkan satu pelaku tunggal dan menduga adanya keterlibatan pihak lain yang hingga kini masih bebas berkeliaran.
Menutup aksi tersebut, para demonstran menyerukan agar Mabes Polri segera menurunkan tim independen ke Kabupaten Sikka untuk melakukan penyelidikan ulang secara menyeluruh. Mereka menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas.
“Ini bukan sekadar soal prosedur hukum, ini soal kemanusiaan. Kami menuntut keadilan bagi Noni dan keluarganya. Kasus ini harus diusut tuntas tanpa ada kompromi sedikit pun,” tutup Andri diiringi teriakan “Keadilan untuk Noni” dari massa aksi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Mabes Polri belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan yang disampaikan oleh para mahasiswa tersebut.










