Muncul Tudingan Suap Rp 5 Juta ke Penyidik dalam Kasus Pembunuhan Noni, Wakapolres Sikka: Saksi Alami Halusinasi

- Reporter

Selasa, 12 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto: Wakapolres Sikka, Kompol Marselus Yugo Amboro, S.I.K., dan kasie Humas Polres Sikka, Ipda Leonard Tunga dalam konferensi pers, Selasa (12/5/2026).

Keterangan foto: Wakapolres Sikka, Kompol Marselus Yugo Amboro, S.I.K., dan kasie Humas Polres Sikka, Ipda Leonard Tunga dalam konferensi pers, Selasa (12/5/2026).

 

MAUMERE,TAJUKNTT- Kepolisian Resor (Polres) Sikka merespons tudingan miring terkait dugaan suap sebesar Rp 5 juta yang menyeret salah satu oknum penyidik Satuan Reserse Kriminal (Reskrim). Tudingan ini sebelumnya mencuat dalam aksi damai Forum 10 Suku dan keluarga almarhumah Noni pada Senin (11/5/2025).

Wakapolres Sikka, Kompol Marselus Yugo Amboro, S.I.K., menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk mendalami kebenaran informasi tersebut sejak Selasa (12/5) pagi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasil Pemeriksaan, berdasarkan poin ke-16 pernyataan sikap Forum 10 Suku, dugaan aliran dana tersebut bersumber dari keterangan Lukas Lado dan anaknya, Dio. Namun, setelah dilakukan pengambilan keterangan oleh Propam sekitar pukul 09.00 WITA, muncul fakta mengejutkan. Istri dari Lukas Lado menyatakan bahwa suaminya tidak pernah melihat penyidik menerima uang sebagaimana yang dituduhkan.

Menurutnya, pernyataan sang suami dipicu oleh kondisi kesehatan mental yang tidak stabil.

“Mohon maaf suami saya ini sudah sakit, kami didiagnosa mengalami halu,” ujar Kompol Marselus menirukan pernyataan istri Lukas Lado saat ditemui di Mapolres Sikka.

Dalam pemeriksaan tersebut, Lukas Lado sendiri mengakui bahwa informasi mengenai suap tersebut hanyalah igauan semata yang kemudian didengar oleh anaknya.

“Saya juga nggak tahu ni, saya bangun pagi saya langsung mengigau kalau si penyidik ini terima uang lalu didengarlah sama anak saya,” ungkap Wakapolres mengutip pengakuan Lukas Lado.

Terkait kondisi medis saksi, Kompol Marselus menjelaskan bahwa Lukas Lado memang dalam masa pengobatan dokter, meski pihaknya belum bisa memastikan tingkat keparahan depresinya.

“Kalau dibilang depresi ringan berat sedang, saya tidak tahu ya, saya belum mendalami, tetapi informasinya yang bersangkutan mengkonsumsi obat dan dikasih sama dokter,” pungkas Wakapolres Sikka.

Polres Sikka menegaskan tidak akan menutup-nutupi kasus ini dan mempersilakan pihak luar untuk melakukan cross-check langsung kepada yang bersangkutan.

Kompol Marselus menjamin bahwa institusinya tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk rekayasa kasus.

“Kami tidak ada toleransi terhadap rekayasa kasus. Setiap ada informasi yang bersifat membangun, kami langsung tindaklanjuti,” ujar dia.

Sebelumnya, gelombang protes menyelimuti Kota Maumere saat puluhan massa yang tergabung dalam Forum 10 Suku Romanduru  Rubit Hewokloang bersama keluarga almarhumah Stevania Trisanti Noni, menggelar aksi damai besar-besaran.  Massa menuntut keadilan tertinggi berupa hukuman mati bagi pelaku dan mendesak pengusutan tuntas atas berbagai kejanggalan dalam penanganan kasus pembunuhan tersebut.

Dalam selebaran pernyataan sikap yang dibagikan kepada masyarakat, massa aksi secara tegas menyatakan ketidakpercayaannya bahwa Fransiskus Rofinus Gewar adalah pelaku tunggal dalam tragedi berdarah ini. Forum 10 Suku menilai Polres Sikka tidak profesional dan gagal menuntaskan perkara secara transparan.

Kekecewaan massa muncul karena hingga saat ini sejumlah barang bukti krusial belum juga ditemukan, di antaranya pakaian korban (baju, celana, dan celana dalam), bagian tubuh korban (jari dan rambut), handphone milik korban.

Selain itu, massa menyoroti ketiadaan pemeriksaan digital forensic, lie detector (pendeteksi kebohongan), serta ketidakmampuan polisi menghadirkan detail percakapan WhatsApp dari ponsel pelaku.

Massa aksi mendesak Kejaksaan Negeri Sikka dan Pengadilan Negeri Maumere untuk tidak memberikan ampunan. Mereka menuntut pidana hukuman mati bagi Fransiskus Rofinus Gewar dan hukuman seberat beratnya bagi pihak keluarga yang diduga turut serta membantu aksi keji tersebut.

“Hukum jangan hanya melihat umur pelaku, tetapi lihatlah kejahatan luar biasa yang dilakukannya. Bagaimana mungkin pembunuhan serapi ini dilakukan sendirian dalam waktu singkat? Ini mustahil,” tegas Emanuel Mula, perwakilan keluarga korban, saat melakukan audiensi dengan Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Armadha Tangdibali, S.H.,M.H.

Melalui pernyataan sikapnya, Forum juga mendesak polisi segera menangkap beberapa nama yang diduga terlibat, yakni Putri Bunga (Nenek pelaku), Mayesti (Ibu tiri pelaku), dan Maksimus Lodan.

Tak hanya itu, massa meminta pengadilan menetapkan Vinsensius Sawe, Saverius Gewar, dan Febrianus Metodius Nong Lomi sebagai pemberi keterangan palsu dalam persidangan.

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi juga membawa isu sensitif terkait integritas penyidik. Berdasarkan keterangan saksi Lukas Lado dan anaknya, Dio, diduga ada aliran dana sebesar Rp5.000.000,- yang mengalir kepada salah satu penyidik Reskrim Polres Sikka.

Atas dasar rentetan kegagalan dan dugaan penyimpangan tersebut, massa aksi melayangkan tuntutan keras kepada Kapolri untuk:

Membongkar siapa sosok “bintang” atau pihak berpengaruh yang diduga menjadi pelindung Saverius Gewar.

“Sampai sekarang motif pembunuhan belum terungkap. HP ayah pelaku pun tidak bisa didapatkan dengan alasan tidak masuk akal. Apakah tugas kami sebagai warga yang harus mencari barang bukti sendiri?” pungkas Emanuel dengan nada kecewa.

Aksi damai ini berakhir dengan pengawalan ketat aparat, sementara pihak keluarga bersumpah akan terus mengawal kasus ini hingga keadilan bagi Stevania Trisanti Noni ditegakkan sepenuhnya.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Pembunuhan Noni, Bantu Anak Pelaku Kabur ke Ende
Niat Minta Ongkos Pulang Saat Ditilang, Anak di Sikka Diduga Dianiaya Oknum Polantas
Buruh Logistik yang Meninggal Jatuh dari Mobil Box di Sikka Ternyata Tulang Punggung Keluarga, Tinggalkan Orang Tua Lansia yang Hidup Sendirian
Buruh Logistik Terjatuh dari Mobil Box di Bolawolon, Sikka, Mengalami Pendarahan Serius di Kepala dan Meninggal Dunia
Saksi Kunci Tak Hadir di Sidang Ketiga Kasus Pembunuhan STN, Kuasa Hukum Nilai Polres Sikka Lalai
Seorang Petani di Sikka Ditemukan Meninggal di Kebun, Keluarga Tolak Dilakukan Otopsi
Dakwaan Jaksa di Sidang Perdana STN: Kekerasan Seksual, Pembunuhan, dan Upaya Hilangkan Jejak
Barang Bukti Dipertanyakan, Kasat Reskrim Polres Sikka: Kayu 1,5 Meter Digunakan Menutup Jenazah
Berita ini 70 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 07:20 WITA

Dua Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Pembunuhan Noni, Bantu Anak Pelaku Kabur ke Ende

Selasa, 12 Mei 2026 - 23:12 WITA

Niat Minta Ongkos Pulang Saat Ditilang, Anak di Sikka Diduga Dianiaya Oknum Polantas

Senin, 11 Mei 2026 - 13:06 WITA

Buruh Logistik yang Meninggal Jatuh dari Mobil Box di Sikka Ternyata Tulang Punggung Keluarga, Tinggalkan Orang Tua Lansia yang Hidup Sendirian

Senin, 11 Mei 2026 - 10:47 WITA

Buruh Logistik Terjatuh dari Mobil Box di Bolawolon, Sikka, Mengalami Pendarahan Serius di Kepala dan Meninggal Dunia

Selasa, 5 Mei 2026 - 00:27 WITA

Saksi Kunci Tak Hadir di Sidang Ketiga Kasus Pembunuhan STN, Kuasa Hukum Nilai Polres Sikka Lalai

Berita Terbaru