Bedah Dampak PSN dan Luka Masyarakat Adat, AWAS Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”

- Reporter

Minggu, 17 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

​MAUMERE-TAJUKNTT-Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter terbaru karya Dandhy Dwi Laksono, “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.

Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat AWAS pada Sabtu (16/5/2026) malam ini menarik perhatian publik dan dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai kalangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Film dokumenter produksi Watchdoc tersebut menyoroti realitas proyek pembangunan khususnya Proyek Strategis Nasional (PSN) yang kerap kali bersinggungan langsung dengan hak-hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.

Pola Penyingkiran Masyarakat Adat: Dari Mollo hingga Lambo

​Jurnalis Mongabay, Ebed De Rosary, yang hadir sebagai salah satu pemantik diskusi, menegaskan bahwa konflik agraria akibat pembangunan berskala besar memiliki pola yang sama di seluruh Indonesia.

Ia merefleksikan perjuangan luar biasa Aleta Baun, tokoh perempuan asal NTT yang gigih melawan tambang mangan di Gunung Mutis, Mollo.

​”Gunung Mutis yang biasa menjadi tempat mencari hasil hutan, pangan lokal, termasuk bahan membuat tenun, itu harus hilang saat perusahaan masuk. Mama Aleta berjuang dari tahun 1996 sampai 2007.

Beliau bercerita kepada saya, saat demo di Kupang bahkan dipukul hampir mati, hingga terpaksa mengungsi dan tinggal di hutan bersama bayinya yang baru lahir karena diancam akan dibunuh jika berada di kota,” kisah Ebed.

​Perjuangan gigih terorganisir itu akhirnya membuahkan penghargaan internasional di Amerika pada tahun 2007. Ebed menambahkan, pola serupa juga terjadi pada penolakan pembangunan Waduk Lambo di Nagekeo.

​”Masyarakat adat di sana takut lahan pertanian dan tempat ritual adat mereka hilang. Proyek PSN pasti membutuhkan tanah yang luas, sehingga otomatis akan selalu bersinggungan dengan masyarakat adat yang hidupnya bergantung pada tanah,” tambahnya.

Apresiasi Nalar Kritis Maumere di Tengah Intimidasi

​Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum Universitas Nusa Nipa (Unipa), Robertus Dicky Armando, yang juga menjadi pemantik diskusi, memberikan apresiasi tinggi terhadap keterbukaan ruang diskusi di Maumere. Menurutnya, iklim akademis dan kebebasan berekspresi di Maumere justru lebih maju.

​Dicky mengungkapkan bahwa sebelum menghadiri acara ini, ia mendapatkan kabar kurang sedap dari almamaternya di Bali.

​”Rekan dosen di FH Udayana Bali menceritakan bahwa pemutaran film ini di sana justru mendapat intimidasi dari aparat. Salah satu peradaban yang bagus bahwa cara berpikir kita orang Maumere lebih maju daripada di Jawa, karna kita menganggap bahwa film itu bukan sesuatu hal yang menakutkan sebenarnya,” tegas Dicky.

​Ia meluruskan bahwa film Pesta Babi, sama seperti karya Watchdoc terdahulu seperti Sexy Killers, dan Dirty Vote—adalah karya dokumenter berbasis fakta lapangan, bukan fiksi.

“Jadi ketika bicara film itu lahir dari sebuah realita sosial, maka patut diperbincangkan, ketika diperbincangkan tentu muncul pro dan kontra,” pungkasnya.

Menuntut Keseimbangan Pembangunan dan Memuliakan “Ibu”

​Lebih jauh, Dicky menjelaskan bahwa diskusi ini tidak bertujuan untuk menolak pembangunan, melainkan mengkritisi orientasi pembangunan itu sendiri agar tetap menjaga keseimbangan antara lingkungan dan manusia.

​”Bagi masyarakat adat, hutan atau tanah ulayat itu adalah Ibu, jadi kalau Ibu mereka disakiti, wajar mereka marah, itu sudah terjadi di dalam film Pesta Babi ini,” jelasnya.

​Dicky juga bersyukur atas kehadiran jurnalisme investigasi yang berani mempublikasikan ketimpangan ini ke ruang publik.

​”Tanpa Watchdoc, mungkin kita tidak tahu realitas PSN di Papua seperti apa. Lewat film ini, kita akhirnya tahu bahwa ada PSN yang sebenarnya tidak berpihak pada masyarakat kecil dalam hal ini kelompok masyarakat adat,” pungkas Dicky di akhir diskusi.

​Acara nobar dan diskusi yang berjalan interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama dari puluhan peserta yang hadir, memantik kesadaran kolektif akan pentingnya mengawal isu-isu kemanusiaan dan lingkungan di Indonesia khususnya wilayah NTT.

Sementara itu, Ketua AWAS, Mario WP Sina menyampaikan, terima kasih kepada semua pihak yang telah hadir dalam kegiatan Nonton Bareng dan Diskusi Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Kehadiran teman-teman semua menunjukkan bahwa ruang diskusi publik masih hidup, dan kepedulian terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, serta masyarakat adat tetap ada di tengah kita.

Menurutnya, film ini bukan sekadar karya dokumenter biasa. Ia menghadirkan potret tentang relasi kuasa, tentang bagaimana pembangunan sering kali meninggalkan luka bagi masyarakat kecil, dan tentang suara-suara yang selama ini berada di pinggir.

Film Pesta Babi menyentuh isu Papua, tanah adat, kerusakan lingkungan, dan relasi kuasa ekonomi-politik.

Tema-tema itu memang tidak nyaman bagi sebagian pihak. Namun justru karena itulah ruang menonton dan berdiskusi menjadi penting, agar masyarakat bisa melihat persoalan secara lebih utuh, kritis, dan manusiawi.

“Nobar ini bukan untuk menggiring opini, tetapi untuk mengajak kita semua melihat, mendengar, lalu menilai dengan pikiran terbuka dan hati yang jernih,” ungkapnya.

Komentar FB

Follow WhatsApp Channel tajukntt.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sikka Darurat Kesehatan Jiwa: Angka ODGJ Tembus 1.236 Kasus, 25 Kasus Bunuh Diri
Terdakwa Anak Kasus Pembunuhan Noni Divonis 10 Tahun Penjara, Keluarga Korban Kecewa Berat
PT FTF Globalindo Akan Tata Ulang Taman Monumen Tsunami Maumere Jadi Ruang Publik Aktif Produktif Demi Dongkrak PAD Sikka
PT Citra Niaga Logistik Cabang Maumere Janji Berikan Santunan bagi Buruh yang Meninggal Terjatuh dari Mobil Boks saat Jam Kerja
Buruh Logistik yang Meninggal Terjatuh dari Mobil Box saat Bekerja Belum Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan, Disnaker Sikka Desak Perusahaan Penuhi Hak Korban
Keluarga Korban S.T.N Demo Kejari Sikka, Kajari Respon dengan Bidik Perkara Baru Dugaan Sumpah Palsu
Lansia 84 Tahun Asal Desa Hoder, Sikka yang Dilaporkan Hilang Akhirnya Ditemukan
Lansia 84 Tahun Asal Desa Hoder, Sikka Dilaporkan Hilang, Keluarga Minta Bantuan Pencarian
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 08:01 WITA

Bedah Dampak PSN dan Luka Masyarakat Adat, AWAS Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:26 WITA

Sikka Darurat Kesehatan Jiwa: Angka ODGJ Tembus 1.236 Kasus, 25 Kasus Bunuh Diri

Rabu, 13 Mei 2026 - 01:46 WITA

PT FTF Globalindo Akan Tata Ulang Taman Monumen Tsunami Maumere Jadi Ruang Publik Aktif Produktif Demi Dongkrak PAD Sikka

Selasa, 12 Mei 2026 - 12:33 WITA

PT Citra Niaga Logistik Cabang Maumere Janji Berikan Santunan bagi Buruh yang Meninggal Terjatuh dari Mobil Boks saat Jam Kerja

Selasa, 12 Mei 2026 - 04:28 WITA

Buruh Logistik yang Meninggal Terjatuh dari Mobil Box saat Bekerja Belum Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan, Disnaker Sikka Desak Perusahaan Penuhi Hak Korban

Berita Terbaru