MAUMERE-TAJUKNTT-Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter terbaru karya Dandhy Dwi Laksono, “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.
Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat AWAS pada Sabtu (16/5/2026) malam ini menarik perhatian publik dan dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai kalangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Film dokumenter produksi Watchdoc tersebut menyoroti realitas proyek pembangunan khususnya Proyek Strategis Nasional (PSN) yang kerap kali bersinggungan langsung dengan hak-hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.
Pola Penyingkiran Masyarakat Adat: Dari Mollo hingga Lambo
Jurnalis Mongabay, Ebed De Rosary, yang hadir sebagai salah satu pemantik diskusi, menegaskan bahwa konflik agraria akibat pembangunan berskala besar memiliki pola yang sama di seluruh Indonesia.
Ia merefleksikan perjuangan luar biasa Aleta Baun, tokoh perempuan asal NTT yang gigih melawan tambang mangan di Gunung Mutis, Mollo.
”Gunung Mutis yang biasa menjadi tempat mencari hasil hutan, pangan lokal, termasuk bahan membuat tenun, itu harus hilang saat perusahaan masuk. Mama Aleta berjuang dari tahun 1996 sampai 2007.
Beliau bercerita kepada saya, saat demo di Kupang bahkan dipukul hampir mati, hingga terpaksa mengungsi dan tinggal di hutan bersama bayinya yang baru lahir karena diancam akan dibunuh jika berada di kota,” kisah Ebed.
Perjuangan gigih terorganisir itu akhirnya membuahkan penghargaan internasional di Amerika pada tahun 2007. Ebed menambahkan, pola serupa juga terjadi pada penolakan pembangunan Waduk Lambo di Nagekeo.
”Masyarakat adat di sana takut lahan pertanian dan tempat ritual adat mereka hilang. Proyek PSN pasti membutuhkan tanah yang luas, sehingga otomatis akan selalu bersinggungan dengan masyarakat adat yang hidupnya bergantung pada tanah,” tambahnya.
Apresiasi Nalar Kritis Maumere di Tengah Intimidasi

Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum Universitas Nusa Nipa (Unipa), Robertus Dicky Armando, yang juga menjadi pemantik diskusi, memberikan apresiasi tinggi terhadap keterbukaan ruang diskusi di Maumere. Menurutnya, iklim akademis dan kebebasan berekspresi di Maumere justru lebih maju.
Dicky mengungkapkan bahwa sebelum menghadiri acara ini, ia mendapatkan kabar kurang sedap dari almamaternya di Bali.
”Rekan dosen di FH Udayana Bali menceritakan bahwa pemutaran film ini di sana justru mendapat intimidasi dari aparat. Salah satu peradaban yang bagus bahwa cara berpikir kita orang Maumere lebih maju daripada di Jawa, karna kita menganggap bahwa film itu bukan sesuatu hal yang menakutkan sebenarnya,” tegas Dicky.
Ia meluruskan bahwa film Pesta Babi, sama seperti karya Watchdoc terdahulu seperti Sexy Killers, dan Dirty Vote—adalah karya dokumenter berbasis fakta lapangan, bukan fiksi.
“Jadi ketika bicara film itu lahir dari sebuah realita sosial, maka patut diperbincangkan, ketika diperbincangkan tentu muncul pro dan kontra,” pungkasnya.
Menuntut Keseimbangan Pembangunan dan Memuliakan “Ibu”

Lebih jauh, Dicky menjelaskan bahwa diskusi ini tidak bertujuan untuk menolak pembangunan, melainkan mengkritisi orientasi pembangunan itu sendiri agar tetap menjaga keseimbangan antara lingkungan dan manusia.
”Bagi masyarakat adat, hutan atau tanah ulayat itu adalah Ibu, jadi kalau Ibu mereka disakiti, wajar mereka marah, itu sudah terjadi di dalam film Pesta Babi ini,” jelasnya.
Dicky juga bersyukur atas kehadiran jurnalisme investigasi yang berani mempublikasikan ketimpangan ini ke ruang publik.
”Tanpa Watchdoc, mungkin kita tidak tahu realitas PSN di Papua seperti apa. Lewat film ini, kita akhirnya tahu bahwa ada PSN yang sebenarnya tidak berpihak pada masyarakat kecil dalam hal ini kelompok masyarakat adat,” pungkas Dicky di akhir diskusi.
Acara nobar dan diskusi yang berjalan interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama dari puluhan peserta yang hadir, memantik kesadaran kolektif akan pentingnya mengawal isu-isu kemanusiaan dan lingkungan di Indonesia khususnya wilayah NTT.
Sementara itu, Ketua AWAS, Mario WP Sina menyampaikan, terima kasih kepada semua pihak yang telah hadir dalam kegiatan Nonton Bareng dan Diskusi Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Kehadiran teman-teman semua menunjukkan bahwa ruang diskusi publik masih hidup, dan kepedulian terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, serta masyarakat adat tetap ada di tengah kita.
Menurutnya, film ini bukan sekadar karya dokumenter biasa. Ia menghadirkan potret tentang relasi kuasa, tentang bagaimana pembangunan sering kali meninggalkan luka bagi masyarakat kecil, dan tentang suara-suara yang selama ini berada di pinggir.
Film Pesta Babi menyentuh isu Papua, tanah adat, kerusakan lingkungan, dan relasi kuasa ekonomi-politik.
Tema-tema itu memang tidak nyaman bagi sebagian pihak. Namun justru karena itulah ruang menonton dan berdiskusi menjadi penting, agar masyarakat bisa melihat persoalan secara lebih utuh, kritis, dan manusiawi.
“Nobar ini bukan untuk menggiring opini, tetapi untuk mengajak kita semua melihat, mendengar, lalu menilai dengan pikiran terbuka dan hati yang jernih,” ungkapnya.










