MAUMERE-TAJUKNTT-Kejaksaan Negeri Sikka menyatakan berkas perkara kasus pembunuhan tragis yang menimpa seorang pelajar SMP di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, masih belum lengkap. Tim Jaksa Peneliti memutuskan untuk mengembalikan berkas tersebut kepada penyidik Polres Sikka untuk diperbaiki.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasi Intel Kejaksaan Negeri Sikka, Okky, mengonfirmasi bahwa setelah dilakukan penelitian mendalam, berkas perkara tersebut dinyatakan belum memenuhi syarat untuk dinyatakan lengkap atau P-21.
“Untuk berkas, oleh Jaksa peneliti dikembalikan lagi kepada penyidik untuk dilengkapi,” ujar Okky saat dikonfirmasi pada Selasa (31/3/2026).
Menurut Okky, pengembalian berkas tersebut dilakukan secara resmi pada akhir pekan lalu. Pihak kejaksaan menilai masih ada celah dalam berkas yang disusun oleh penyidik kepolisian, baik dari sisi administrasi maupun substansi perkara.
“Dikembalikan lagi kepada penyidik pada hari Jumat, 27 Maret 2026. Alasannya karena masih terdapat kelengkapan formil dan materiil dalam berkas yang belum dilengkapi,” jelasnya lebih lanjut.
Keluarga Noni Mengadu ke DPRD: “Kasus Terkatung-katung”
Pengembalian berkas oleh Jaksa ini seolah memvalidasi kekhawatiran keluarga korban. Tepat pada hari yang sama saat jaksa mengembalikan berkas (27/3), keluarga Noni menggelar aksi demonstrasi besar di Gedung DPRD Sikka.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama anggota dewan, ayah korban menyampaikan orasi emosional yang menyayat hati. Ia mempertanyakan mengapa proses hukum berjalan sangat lambat selama satu bulan terakhir.
“Sudah satu bulan, tapi kasus ini terkatung-katung. Apakah karena kami ini orang kecil, tidak punya uang, tidak punya harta? Sakit sekali hati ini,” ungkap ayah Noni dengan nada penuh kekecewaan.
Keluarga korban secara terbuka menyatakan mosi tidak percaya terhadap kinerja Polres Sikka. Mereka membeberkan sejumlah poin yang dianggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan aparat sejak awal kasus ini bergulir. Pertama, saat melapor ke Polsek Kewapante pada 20 Februari lalu, keluarga mengaku diminta mencari sendiri oleh petugas dengan asumsi korban hanya sedang bermain.
Keluarga terpaksa menyisir lokasi secara mandiri hingga menemukan jenazah Noni dalam kondisi tragis pada Senin (23/2), tanpa bantuan awal dari aparat.
Hingga saat ini, lima barang bukti krusial belum diamankan, yakni: ponsel korban, pakaian, potongan rambut, jari korban yang terpotong, serta identifikasi bercak darah di TKP.
Melihat banyaknya kejanggalan dan hilangnya barang bukti fisik, keluarga mendesak agar Mabes Polri segera mengambil alih investigasi kasus ini. Mereka meyakini bahwa keterlibatan penyidik tingkat pusat diperlukan untuk memberikan titik terang yang lebih cepat dan objektif.
Merespons tuntutan tersebut, DPRD Sikka secara resmi memberikan dukungan politis kepada keluarga korban. Para wakil rakyat mendesak agar kepolisian bekerja lebih serius dan transparan guna mengungkap motif serta menangkap pelaku di balik pembunuhan keji remaja berusia 14 tahun tersebut.










