Jika hidup adalah sebuah layar lebar, maka kisah sang anak berusia sepuluh tahun di perbukitan Ngada, NTT, adalah adegan yang lebih perih dari film *”Capernaum” (2018).* Dalam mahakarya Nadine Labaki itu, kita menyaksikan Zain, seorang bocah di Beirut, yang menggugat orang tuanya di pengadilan karena telah melahirkannya ke dalam dunia yang tanpa harapan. Namun, anak di Ngada ini memilih jalan yang lebih sunyi. Ia tidak menggugat siapa pun; ia tidak marah pada dunia yang memperlakukannya dengan tidak adil.
Di balik bilik bambunya, ia justru menuliskan surat permintaan maaf kepada ibunya, seolah-olah kemiskinan yang mencekiknya adalah kesalahannya sendiri. Jika Zain adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, maka sosok kecil di Ngada ini adalah simbol dari keputusasaan yang telah mencapai titik nadir-sebuah “Capernaum” versi nyata yang terjadi tepat di depan mata bangsa kita.
Melodi yang Terputus
Kematiannya mengingatkan kita pada lirik lagu legendaris *”Another Day in Paradise”* milik Phil Collins:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“She calls out to the man on the street / ‘Sir, can you help me?’ / It’s cold and I’ve got nowhere to sleep / Is there somewhere you can tell me?”
Hanya saja, dalam kasus ini, sang anak tidak meminta tempat tidur. Ia mungkin hanya butuh sebuah pulpen dan buku tulis-benda-benda yang bagi banyak orang di kota besar hanyalah sampah di dasar tas, namun bagi jiwa kecil ini, itu adalah tiket masuk untuk tetap dianggap “ada” di ruang kelas. Ketika tiket itu tak mampu terbeli, ia merasa dunianya tamat.
Sinematografi Kemiskinan yang Brutal
Kita sering terjebak dalam romantisme “anak desa yang gigih.” Kita senang melihat foto mereka bertelanjang kaki mendaki gunung demi sekolah, dan menganggapnya sebagai inspirasi. Namun, tragedi Ngada merobek romantisasi itu. Tak ada akhir bahagia di sini. Yang ada hanyalah realitas brutal bahwa kemiskinan bukan sekadar soal perut yang kosong, tapi tentang harga diri yang runtuh.
Secara visual, bayangkan sebuah long shot (pengambilan gambar jarak jauh) yang menunjukkan betapa kecilnya tubuh anak itu di tengah padang sabana yang gersang. Ia sendirian. Tidak ada jaring pengaman sosial, tidak ada guru yang menangkap kegelisahannya, tidak ada negara yang hadir di bilik rumahnya saat ia merasa terpojok oleh keadaan setelah seharian mencari kayu bakar dan berjualan sayur.
Ironi “Jangan Menyerah”
Kontras ini semakin menyakitkan saat kita mendengar senandung *d’Masiv* yang sering menjadi pelipur lara:
“Syukuri apa yang ada / Hidup adalah anugerah / Tetap jalani hidup ini / Melakukan yang terbaik”
Namun, bagaimana cara kita membisikkan kata *”Jangan Menyerah”* kepada seorang anak berusia sepuluh tahun yang merasa dunianya runtuh hanya karena tidak mampu membeli alat tulis? Lirik “Tak ada manusia / Yang terlahir sempurna” terasa begitu menyesakkan ketika kita membayangkan ia harus memikul beban ekonomi keluarga di bahu kecilnya, sementara ia sendiri merasa menjadi beban. Menyerah, bagi anak ini, bukanlah tanda kurangnya rasa syukur, melainkan titik lelah tertinggi dari sebuah jiwa yang merasa ditinggalkan sendirian.
Mengganti Soundtrack
Kita tidak bisa terus membiarkan “lagu” sedih ini diputar berulang-ulang di pelosok negeri. Jika pendidikan adalah hak, maka seharusnya tak ada lagi anak yang harus “membayar” hak tersebut dengan nyawanya.
Kita butuh sutradara kebijakan yang lebih peka, bukan yang hanya hobi membangun monumen beton, tapi yang bisa memastikan bahwa tak ada lagi pena yang patah sebelum sempat menorehkan mimpi. Biarlah tragedi Ngada menjadi adegan terakhir dari keacuhan kita. Karena pada akhirnya, tak ada keindahan dalam kemiskinan; yang ada hanyalah duka yang seharusnya bisa kita cegah melalui tindakan nyata, *bukan sekadar kata-kata motivasi.*
Penulis : Yeriko Fernando-Diaspora NTT di Jakarta.








