Sikka itu laut. Garis pantainya panjang sekali. Tapi, nadi ekonominya justru sering tersumbat di pesisir.
Kemarin (26/02/2026), ada tamu penting. Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono. Ia datang ke Sikka. Bukan sekadar jalan-jalan.
Ia datang untuk mengonfirmasi satu hal: Sikka sudah punya nakhoda yang tahu arah. Juventus Prima Kago dan Simon Subandi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Duo ini tidak sedang berjualan mimpi. Mereka bekerja pakai data. Presisi. Titik-titik potensi dipetakan satu per satu.
Nagahure, Nangahale, sampai Pemana diplot jadi lumbung pelagis. Ikan selar, layang, kembung. Ini soal perut rakyat. Protein murah.
Lela dan Paga beda lagi. Di sana ada tuna dan cakalang. Ini barang ekspor. Mesin devisa.
Lalu ada Parumaan dan Bola. Wilayah premium. Isinya kerapu dan kakap. Mewah. Semua itu mesin ekonomi. Nyata.
Sekarang, Wuring jadi prioritas. Ada investasi Rp22 miliar masuk ke sana. Angka yang besar. Tapi tidak jatuh begitu saja dari langit Jakarta. Ini hasil lobi. Strategis.
Pemkab Sikka tidak mau berpangku tangan. Mereka siapkan lahan. Luas: 6.400 meter persegi. Tanpa lahan, anggaran itu bisa terbang ke daerah lain. Juventus-Simon sigap.
Hari ini survei lokasi. Titik nol.
Nantinya, akan ada 18 item fasilitas. Dermaga, cold storage, pabrik es, sampai SPDN. Targetnya? Pangkas biaya operasional nelayan 15%. Ikan tetap segar. Harga naik 20-30%.
Nelayan yang tadinya berpenghasilan Rp2,5 juta, diproyeksikan bisa kantongi Rp5 juta lebih. Konkret.
Apakah ini hanya angan-angan?
Tidak. Sikka belajar dari Biak. Di Papua sana, ada Samber-Binyeri. Proyeknya mirip. Hasilnya? Pendapatan nelayan naik 100%. Sukses besar.
Keberhasilan di KNMP Biak ini bisa kita jadikan contoh. Membawa standar nasional itu ke bumi Sikka.
Tentu, ada ketakutan. Penyakit lama: bantuan pusat sering jadi monumen. Gagah saat digunting pitanya, lalu mangkrak kemudian. Besi tua.
Juventus-Simon harus menjawab risiko ini. Maka, sejak tahap survei ini, peta jalan tata kelola mulai disusun.
Koperasi nelayan harus disiapkan menjadi pengelola yang profesional. Tidak boleh ada lagi alat rusak yang didiamkan. Harus mandiri. Tidak boleh terus-menerus menyusu pada APBD.
Kehadiran Menteri KKP hari ini adalah stempel kepercayaan. Validasi bahwa Sikka punya visi yang nyambung dengan pusat.
Potensi laut dari Nagahure sampai pulau terjauh, tidak lagi jadi jargon kampanye. Ia mulai menjelma jadi urat nadi kesejahteraan baru di beranda rumah nelayan.
Sikka sudah mulai. Kemakmuran itu ternyata memang ada di lautnya.
Oleh:Yeriko Fernando-Diaspora Sikka di Jakarta.










